Minggu, 11 November 2012

Menghilangkan rasa malu pada anak

KOMPAS.com - Putri Anda menolak tawaran untuk tampil menari di panggung sekolahnya. Ini bukan kali yang pertama si kecil mogok, dan tidak mau tampil menyanyi, menari, atau apa pun kegiatan di sekolahnya. Padahal ia telah mengenakan pakaian untuk tampil di panggung. Sia-sia rasanya Anda memberi semangat di belakang panggung agar si kecil berani naik ke panggung. Bahkan tawaran untuk didampingi oleh temannya pun ditolak. Alhasil, kesempatan itu pun terlewati.


Memang tidak semua anak memiliki keberanian untuk tampil di panggung. Tapi, menurut Rahmi Dahnan, Psi., psikolog dari Kita dan Buah Hati, kondisi ini masih tergolong wajar dan dapat diterima. Sebab pada sebagian orang baik pemalu maupun tidak, beberapa situasi akan membuatnya mengalami rasa malu. Misal, ketika bertemu dengan orang yang baru saja dikenal, tampil di depan orang banyak, atau saat menghadapi situasi yang baru (seperti, sekolah baru, pindah rumah baru, kantor baru). Jadi jika ada di antara anak prasekolah yang merasa malu untuk tampil di panggung atau dalam acara sekolah, sesungguhnya masih tergolong wajar.
Malu vs. percaya diri
Ketika si prasekolah tidak berani tampil di panggung atau acara terbuka lainnya di hadapan orang banyak, umumnya ada dua penyebabnya. Pertama, si prasekolah kurang memiliki rasa percaya diri. Kedua, memang anak tersebut memilki sifat pemalu.
Untuk membedakan antara anak yang tak berani tampil karena memiliki sifat pemalu atau kurang percaya diri, tentunya dituntut kepekaan orangtua. Cara pengamatannya cukup sederhana. Untuk anak yang kurang percaya diri umumnya sifat pemalu itu tidak menetap. Maksudnya, anak hanya tidak berani tampil pada kesempatan tertentu saja. Misal, ketika kurang persiapan atau penontonnya terlalu banyak.
Sedangkan untuk anak yang memang memiliki watak atau sifat pemalu, bila diamati maka watak atau sifat itu akan menetap. Jadi si anak dalam berbagai kesempatan akan selalu menarik diri karena malu. Tidak hanya di sekolah, tapi juga di lingkungan rumah sendiri atau bahkan di lingkungan keluarga. Menurut Swallow, seorang pakar psikiater anak, ada 10 hal yang biasanya dilakukan atau dirasakan anak pemalu. Di antaranya, menghindari kontak mata, memperlihatkan perilaku mengamuk (temper tantrum) untuk melepaskan kecemasannya, tidak banyak bicara, tidak mau mengikuti kegiatan-kegiatan di kelas, tidak mau meminta pertolongan atau bertanya kepada orang yang tidak dikenalnya, menggunakan alasan sakit agar tak berhubungan dengan orang lain (misalnya agar tidak pergi ke sekolah), bahkan merasa tidak ada yang menyukainya.
Bila kurang percaya diri
Anak yang tidak berani tampil karena kurang memiliki rasa percaya diri, umumnya dapat diatasi. Dengan memberikan stimulasi yang tepat dan rutin, niscaya anak dapat mengatasi rasa percaya dirinya. Untuk itu menjadi tugas orangtua untuk menumbuhkan rasa percaya diri si anak. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan:
*Lakukan persiapan sebelum acara dimulai. Berikan penjelasan suasana acara yang akan diikuti. Tak ketinggalan, tahapan atau langkah yang harus dilakukan pada acara tersebut. Bila perlu, ajak anak untuk tiba di lokasi 10 – 15 menit sebelum acara dimulai, sehingga si prasekolah dapat memperoleh gambaran suasana acaranya. Ini akan membantu si prasekolah dalam menyesuaikan diri dan menumbuhkan rasa percaya dirinya.
* Bila perlu berikan contoh. Anak prasekolah mempelajari sesuatu dengan meniru atau mencontoh dari lingkungannya. Untuk itu, orangtua pun hendaknya dapat memberikan contoh bersikap atau berperilaku di tengah keramaian. Misal, cara bertegur sapa dan bergabung dengan teman-teman dalam kelompok tersebut. Bila anak mau melakukan, berikan penghargaan. Misal, “Mama bangga lho…Ternyata adek berhasil bergabung dan mengobrol dengan asyik sama teman-temannya.”
Atau, kalau ingin menumbuhkan keberanian anak ketika akan mengikuti lomba, sesekali orangtua hendaknya juga jadi peserta lomba dan ajaklah anak untuk mengamati gaya atau perilaku orangtuanya saat mengikuti lomba.
* Berikan kesempatan pada anak untuk menyatakan pilihan atau keinginannya. Contoh, ketika memilih model busana, makanan atau potongan rambut. Menghargai pilihannya dapat menumbuhkan rasa percaya diri anak.
Berikan stimulasi dengan dukungan dari lingkungan
Untuk penyebab yang kedua yakni pemalu, orangtua hendaknya bersikap lebih berhati-hati. Sebab ada penelitian yang menyatakan bahwa watak pemalu ini bersifat bawaan atau keturunan. Hal yang patut diwaspadai oleh orangtua bila sifat pemalu ini berubah menjadi masalah. Karena, bila dibiarkan sifat ini menyebabkan potensi anak menjadi terkubur dan tidak berkembang optimal.
Ketika orangtua mengetahui anaknya pemalu dan menyebabkan si anak tidak memiliki keberanian untuk tampil, sebaiknya sikap yang ditunjukkan adalah menerima sifat pemalu tersebut apa adanya tanpa mempermasalahkannya. Langkah selanjutnya, orangtua hendaknya juga mendorong anak untuk mengatasi rasa malunya, sehingga akan tumbuh rasa percaya dirinya.
Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghilangkan sifat pemalu pada si prasekolah:
1. Dorong anak untuk bergabung dengan klub atau aktivitas yang menarik minatnya. Mungkin musik, ilmu pengetahuan, apa saja sepanjang bidang yang diminati. Cara ini dapat menciptakan kesempatan-kesempatan agar terbentuk hubungan yang familiar dan nyaman dengan kelompok-kelompok yang lebih besar.
2. Tidak mengolok-olok atau membicarakan sifat pemalu anak di depannya. Pembicaraan seperti itu dapat membuat anak merasa tidak nyaman dan tidak diterima sebagaimana adanya.
3. Ketahui kesukaan dan potensi anak. Doronglah anak untuk berani melakukan hal tertentu, melalui hobi dan potensi diri. Misalnya, anak suka menyanyi maka kembangkan hobinya. Bila perlu ikutkan dengan kursus atau latihan vokal agar kemampuannya semakin bertambah..
4. Mengajak anak berkunjung ke rumah teman atau sanak saudara. Buatlah jadual berkunjung ke rumah teman, tetangga, kerabat, dan bermainlah di sana. Kunjungan sebaiknya dilakukan pada lokasi yang berbeda. Atau, ajaklah anak-anak tetangga atau teman-teman sekolahnya untuk bermain di rumah.
5. Bermain peran bersama anak. Misalnya, anak belum berani tampil di panggung, sekalipun didampingi temannya. Maka, ketika berada di rumah, orangtua dan anak bisa bermain peran seolah-olah sedang ada pertunjukkan, anak akan tampil menari di atas panggung atau menari sambil didampingi temannya. Bermain peran dapat dilakukan pada berbagai situasi, berpura-pura, di toko, berpura-pura di sekolah, berpura-pura ada di panggung, dll.
6. Jadilah contoh buat anak. Anak biasanya mengamati dan belajar dari perilaku orangtuanya sendiri. Untuk itu, orangtua tidak hanya mendorong anak untuk percaya diri, tetapi juga menjadi model dari perilaku percaya diri.
(Utami Sri Rahayu)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini